Benarkah Hari Valentine itu Penuh Kasih Sayang?

14
Februari mungkin menjadi hari yang paling ditunggu terutama bagi pemuda-pemudi.
Dari mulai diskon besar-besaran hingga bagi-bagi coklat, ice cream, dsb ditawarkan
di hari yang dianggap penuh kasih sayang ini. Namun sayangnya penawaran ini
tidak lain hanya untuk memanjakan pasangan muda-mudi yang akhirnya menjerat
mereka dalam jurang kemaksiatan. Pernahkah kita bertanya, “Kenapa ada berbagai
fenomena yang begitu menyimpang dengan hari yang dianggap penuh kasih sayang
ini?” Contohnya beli coklat dapat kondom, gratis sewa hotel untuk malam
valentine. Ini semua maksudnya apa?
Mari
kita membuka mata lebar-lebar dan membuka hati untuk menerima kebenaran.
Terutama bagi para Muslim, berhentilah ber-euphoria dengan Valentine. Tulisan
singkat ini tidak ditulis semata-mata dengan maksud provokasi kebencian namun
harapan agar kita semua memiliki pemahaman dan kesadaran akan betapa buruknya
Valentine. Semoga memberi pandangan baru bagi yang masih menganggap Valentine
itu hari kasih sayang. Semoga Allah SWT menjaga iman kita dari hal yang seperti
ini.
Tepatnya
pada 13 Februari 2011, seorang editor di Washington Desk, Arnie Seipel menulis
tentang sejarah kelam Valentine di National Public Radio, Inc. Jika tulisan ini
disimpulkan maka JELAS bahwa valentine itu BUKAN budaya yang baik, BUKAN budaya
yang dibenarkan dari sisi manapun. Budaya perayaan Valentine bukan hanya tidak
baik namun juga DISKRIMINATIF dan MERUSAK. Terlebih lagi dari pandangan Islam.
Jadi, sudah tidak ada lagi alasan untuk kita bergembira apalagi merayakan hari
kelam seperti valentine. Berikut sedikit cuplikannya.
Dari
pemaparan Seipel, sejarah valentine ini bisa dilacak kembali ke masa romawi
kuno dan paganisme. Dimulai tanggal 13 sampai 15 Februari, orang-orang romawi
merayakan sebuah pesta yang diberi nama Lupercalia. Pesta yang di dalamnya ada
penyembelihan seekor kambing dan anjing sebagai tumbal. Kemudian dilanjutkan
dengan aksi tak beradab terhadap para wanita. Para WANITA berdiri mengantre
untuk dicambuk oleh kaum LELAKI layaknya binatang. Bahkan lebih kejam daripada
itu, hingga mereka para wanita tewas ditempat tersebut.
Seorang
Ahli sejarah dari Universitas Colorado, Noel Lenski juga mengatakan bahwa
mereka (kaum laki-laki) melakukannya dalam kondisi mabuk dan telanjang. Mereka
mempercayai itu semua akan menambah kesuburan mereka. Yang lebih brutal lagi
bahkan adalah kaum WANITA dijadikan lotre atau undian bagi kaum lelaki. Wanita
yang terundi akan dinikmati kaum lelaki sepanjang perayaan itu. Apakah ini yang
disebut hari kasih sayang? Tanpa logika pun kita bisa memahami dengan jelas
bahwasannya yang seperti tidak seharusnya dituruti.
Apalagi
yang akan kita rayakan? Mau bilang kalau perayaan Valentine’s sekarang kan
sudah tidak seperti itu lagi, sudah berbeda. Kami membagi coklat, kue,
bunga-bunga merah, dsb.
Atau
mau berdalil, “semuanya kan kembali kepada niatnya?”
Mari!
Kita jawab sendiri pertanyaan dan alasan-alasan tak masuk akal untuk merayakan
Valentine. Bagaimana bisa kita merayakan hari yang sama sekali tidak ada kasih
sayangnya? Jika masih belum ketemu jawabannya. Maka mari kita bangun dan
melihat kawan-kawan kita yang terciduk aparat penegak hukum tengah melakukan maksiyat
MERUSAK di hari-hari Valentine. Berapa banyak pasangan muda-mudi ditangkap di
kamar-kamar hotel tanpa surat nikah. Jika diperhatikan, 10 tahun yang lalu,
ketika Valentine tidak begitu dirayakan. Fenomena-fenomena yang merusak
generasi penerus bangsa ini belum sedemikian masal terutama di Indonesia.
Semakin kesini semakin banyak kasusnya. Singkatnya, semakin Valentine
dirayakan, semakin hancur masa depan generasi muda.
Jika
terus dicari alasan untuk merayakan Valentine, pasti ada. Begitupun dengan
mencari alasan untuk menolaknya. Namun, ingatlah kawan semuanya terutama
saudara MUSLIM, semakin kita menghalalkan perayaan ini semakin tergerus
keimanan kita, semakin menuju kepada kegelapan. Dengan realita menyakitkan yang
kita lihat dan rasakan setiap tahunnya. Sebenarnya tidak perlu lagi mengulas
sejarah kelam Valentine yang JELAS-JELAS menghinakan.
Mari
kita menjadi generasi yang lebih baik. Hentikan budaya perayaan Valentine yang tak
beradab. Mari kita isi hidup yang singkat ini dengan kemanfaatan dan kebaikan.
Karena memang tak ada satupun orang di
dunia ini tak mengingkan kebaikan. Sebaliknya, tak ada satupun orang
menginginkan keburukan terjadi padanya. Oleh karena itu, mulai dari diri kita,
hari ini untuk tidak merayakan dan mendukung Valentine dengan alasan apapun!
Jika memang mencintai maka halalkan dengan cara yang halal, bukan menghalalkan
segala cara.
Semoga
Allah SWT memberikan kita semua hidayah dan pemahaman atas ini.
Comments
Post a Comment