Menghadirkan Allah Dalam Kehidupan


Sekitar 5 atau 6 tahun lalu ketika masih duduk di bangku SMP, sebuah impian besar telah hadir di hidup saya, yaitu menghafal Al-Qur'an. Sungguh impian mulia dengan sedih saya harus menanggalkannya karena kondisi keluarga yang seakan menuntut untuk segera lulus dan bekerja sebagaimana apa yang dilakukan kakak. Bayangan menjadi buruh pabrik dengan gaji UMR sudah cukup membuat saya melupakan harapan dan impian saya. "Setelah lulus ini, saya masuk SMK trus kerja seperti kakak dan membantu orang tua...", tutur saya dalam hati. 

Selang beberapa minggu setelah diterimanya saya di SMK, keinginan dan harapan saya yang lalu seakan hinggap kembali. Memang benar fitrah manusia untuk selalu melihat kebenaran, saya terinspirasi dengan apa yang telah saya lakukan hari-hari itu, dimana untuk pertama kalinya saya menghafalkan Surat Ya-Siin saat duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar. Tak diduga saat iseng-iseng merenung ternyata di SMP saya juga terinspirasi untuk menghafalkan satu surat yang panjang menurut saya waktu itu, Surat Al-Waqi'ah. Entah apa yang saya dapatkan dari berpikir seperti ini, saya ingin menghafal surat yang lain seperti Al-Mulk, dsb. Bahkan di akhir studi di SMK, saya berpikiran untuk menghafal juz amma. "Jika saya bisa itu bakalan jadi hal luar biasa bagi saya", saya katakan dalam hati sambil tersenyum sendiri. Saya targetkan untuk hafal juz amma sebelum datangnya Ramadhan tahun depan dan saya berpikir ini bakalan suatu pencapaian berharga jika saya mampu mengikuti acara Khataman Al-Qur'an tanpa membawa Al-Qur'an (acara membaca Al-Qur'an bersama di mushola dekat rumah yang biasanya diadakan di penghujung Ramadhan). Maklum, baru hafal dikit sombong telah hinggap, namun kita harus selalu mensucikan hati kita dari kesombongan, karena setan akan selalu ada dan berusaha menyesatkan kita dalam urusan apapun. 

Rapor semester pertama telah diberikan di tahun pertama saya di SMK, saya senang sekali dengan nilai yang saya dapatkan. Namun kesenangan saya tidak membuahkan banyak hal bermanfaat kecuali mengurangi keseriusan saya dalam belajar. Kebiasaan kurang bermanfaat yang sering saya lakukan ditambah lingkungan yang kurang baik telah membuat lalai saya akan keinginan untuk menghafal juz amma. Seperti biasa saya cukup menyesal dengan kondisi itu, meski penyesalan ini juga terkadang masih "Kapok Lombok" (kiasan orang jawa untuk orang yang senang mengulang kesalahan). Tidak cukup superior tapi setidaknya, saya pernah mendapatkan lebih dari empat kali ranking satu. Singkat cerita, ketika saya membuka SMS di HP saya, benar-benar diluar dugaan beberapa guru dan teman-teman mengirimkan kata-kata selamat atas pencapaian nilai UN tertinggi di sekolah. Manusiawi sekali jika saya sangat bangga terhadap semua ini. Bagaimana saya dan ibu tidak menangis mendapatkan semua itu,  saya teringat hari dimana pengumuman penerimaan SMK dipajang di depan aula SMK, saya lihat nama saya ada diatas pagu siswa yang diterima. Artinya, posisi saya tidak begitu bagus jika dibanding calon teman sekelas saya yang berada di jajaran atas. Entah ini do'a atau hanya pikiran lalu lalang saat itu, "Seandainya saya nanti lulus dengan nilai terbaik". Apakah ini artinya Allah mengijabahi do'a dan ikhtiar saya atau justru Allah menjadikan ini dengan menguji apakah saya akan sombong dan lain sebagainya. 

Sekali lagi kesombongan telah hinggap dan kekufuran nikmat yang telah saya lakukan. Tapi saya masih yakin bahwa Allah memang selalu membantu saya bagaimanapun keadaannya, meski terkadang ketika saya sadar, saya sering malu dengan Allah, karena kebaikan terus dianugerahkan kepada saya namun yang saya lakukan justru tidak bersyukur. Ending sekolah yang begitu rumit ketika keinginan kuliah muncul setelah kelulusan. Terlalu PD dengan kemampuan yang ada, saya menentukan pilihan di prodi yang cukup diminati yaitu informatika di salah satu PTN favorit di Surabaya melalui jalur SNMPTN dan SBMPTN. Entah apa yang terjadi, ketika tes SBMPTN berlangsung seakan saya kehilangan kemampuan dan Blank. Alhasil, SNMPTN tidak diterima begitupun dengan SBMPTN. Waktu satu tahun rehat dari pendidikan bukan waktu yang cukup lama untuk introspeksi dan persiapan menghadapi SBMPTN lagi, apalagi dengan kesibukan mengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar yang cukup prestige.

Mendekati masa SNMPTN dan SBMPTN, kegalauan kembali menyerang saya. Kebingungan memilih prodi dan persiapan tes yang kurang tidak cukup membuat saya PD untuk memilih prodi favorit lagi. Belum diumumkannya pendaftaran SBMPTN, saya dapatkan informasi tentang sebuah universitas swasta yang menyediakan beasiswa penuh 100%, yaitu Al Hikmah. Langkah awal yang saya lakukan ada memastikan detil infonya, apalagi info ini saya dapat dari selembar iklan. Benar-benar diluar dugaan, keinginan saya untuk menjadi programmer telah pupus setelah mendengar informasi bahwa ada sistem yang begitu saya butuhkan yaitu perpaduan kuliah dan pondok. Ada satu hal yang sangat menarik dari semuanya bagi saya yaitu program hafalan Qur'an 10 juz disamping kuliah yang bukan keagamaan. Disinilah semua keinginan dan harapan yang pernah saya pendam selama ini benar-benar menjadi kenyataan. Sungguh kesadaran yang luar biasa bahwa ada alasan dibalik tidak diterimanya saya di PTN. Seandainya saya sudah masuk ke PTN, mana mungkin saya akan menyadari nikmat begitu besar yang telah diberikan oleh Allah. Mana mungkin harapan yang telah pupus karena kondisi yang bahkan seperti tidak memungkinkan lagi untuk berharap masuk pondok, benar-benar telah saya pahami bahwa kita sebagai manusia tidaklah pantas menyalahkan Allah atas ketidak beruntungan kita dalam sisi tertentu. Karena pada dasarnya kita tidak tahu apa rencana besar dibalik itu. Sejak saat itu pula saya menjadi sangat yakin bahwa tidak ada satupun peristiwa yang sudah atau bahkan belum saya alami adalah pelajaran yang sangat berharga bagi saya sebagai pemberian yang tak ternilai dari Sang Kuasa.

Dari sekelumit kisah hidup yang saya bagi ini, semoga sedikit memberikan inspirasi bagi kita untuk melihat dimana Allah hadir di dalam hidup kita. Banyak dari kita yang mengingkari akal untuk membenarkan adanya Allah sebagai Tuhan Semesta Alam. Disadari atau tidak Allah sangat baik terhadap kita, Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan sebagaimana kisah singkat diatas. Jika kita ingin Allah hadir dalam diri kita, maka hal itu sangatlah mudah bagi kita yang mau berpikir atasnya. Perkataan dan cerita merupakan sedikit referensi bagi kita untuk mengambil sikap, namun hanya orang-orang yang peka yang mampu merasakan kehadirannya. Dan untuk merasakan semuanya dibutuhkan ketulusan dan kesiapan hati untuk menerimanya.

Tidaklah semua tulisan ini benar kecuali datangnya dari Allah SWT. Jika salah maka itu murni kesalahan saya. Semoga Allah selalu mengarahkan kita pada jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang diberikan nikmat pada mereka bukan jalan orang-orang yang sesat dan munkar.

Sekian tulisan ini saya share dan semoga kita diberikan kesabaran dan kemampuan untuk peka terhadap tanda-tanda petunjuk Allah sebagaimana yang selalu kita minta setiap sholat.

Temukan pelajaran-pelajaran berharga dari Allah SWT bagi anda! 

Comments

Popular posts from this blog

Benarkah Hari Valentine itu Penuh Kasih Sayang?

Gerhana